REFLEKSI

Mengenang kembali sentuhan itu

pohon1

Berapa kali dalam sehari tubuh kita benar-benar menyentuh tanah? Benar-benar menyentuh dan merasakan adanya perjumpaan dengan tanah?

Kita menyentuh makanan kita, baju, perabot, peralatan elektronik dan segala bentuk benda setiap saat. Tanah?

Dalam kecanggihan teknologi beragam cara hidup higienis, bersentuhan langsung dengan tanah dapat dikategorikan mengancam kesehatan dan tergolong berbahaya bagi tubuh kita. Tanah, pasir, dan debu sudah barang tentu menjadi benda yang digolongkan sebagai sampah yang perlu dihindari dan dijauhkan dari tubuh kita.

Menyentuh tanah adalah kotor, dan kalaupun terpaksa hal itu terjadi, orang harus segera ingat bahwa di dalamnya terdapat banyak bakteri dan bahkan telur cacing parasit yang bisa mengganggu tubuh.

Tanah yang hidup

Sepanjang sore tadi aku bermain-main dengan tanah. Mendangir tanah disekitar tanaman dan pohon agar mereka dapat bernafas kembali, membongkar pot-pot yang tanamannya sudah terlalu besar dan didominasi akar, mengaduk-aduk campuran tanah lembut-kasar-lembek untuk media tanam baru.

Mula-mula aku mengandalkan peralatan sekop, cangkul, dan sabit yang tersedia. Namun lama-lama aku khawatir peralatan itu melukai tanaman yang hendak kutanam dan membuatnya tidak bisa bertumbuh dengan alami. Kuputuskan menggunakan tangan untuk memindahkan tanaman, mengembalikan lagi tanah adukan dan membuatnya berada nyaman dalam pot. Akhirnya, aku merasakan bahwa ada yang berbeda, semacam ada sesuatu yang kembali ke dalam entah ingatanku atau perasaanku. Aku mengalami bersentuhan dengan tanah.

Tentu ini pengalaman yang amat sederhana. Pengalaman yang amat personal dan temporal. Ini musim kemarau. Air dari PDAM tidak mengalir sederas biasanya dan kami tidak memiliki sumber air cadangan seperti sumur. Rumput banyak yang mengering dan beberapa tanaman menggugurkan daunnya dengan caranya masing-masing.

Tanah yang menerima

Entah dorongan apa yang merasuki diriku, tanah benar-benar menggodaku dan membuatku bertindak untuk melakukan sesuatu. Mula-mula cangkul aku pegang. Belum genap lima ayunan, rumput liar yang ingin aku siangi nampak lebih mudah dicabuti daripada dipotong dengan cangkul. Dengan lahap tanganku segera menarik dan mencabut, segenggam, dua genggam terkumpul membukit kecil disampingku.

Tanah berhamburan, kadang memang terlihat cacing tanah menggeliat masuk kembali kedalam tanah menghindari udara panas.Menempel di tanganku, beberapa butir nyasar ke rambutku dan berwarna kakiku menginjak-injaknya. Tanah memang sesuatu yang luar biasa.

Teringat aku bahwa disebalah kiri tempatku mencabuti rumput adalah pekuburan 4 ekor anak kucing malang yang terlantar, dan kami selalu mengingat kesedihan itu ketika seminggu lamanya mempertahankan mereka, namun satu persatu mereka menyerah. Tanpa kekebalan alami, dalam usia yang terlalu dini – kata dokter hewan – binatang sangat rentan untuk mampu bertahan hidup. Pertolongan kami pun tak berfaedah banyak, hanya bisa memastikan bahwa mereka berada di tangan yang menerima mereka penuh dengan kasih sayang. Tanah disitu masih mengembung bekas replika pekuburan, tertumbuhi rumput juga. 

Tanah yang memberi awal kehidupan bunga dan pohon, rumput liar dan ilalang, cacing tanah dan bakteri, juga adalah tanah yang menerima akhir kehidupan; entah itu tanaman, binatang seperti kucing-kucing yang malan itu, bahkan manusia perkasa dan berkuasa sekalipun.

Bersentuhan dengan Tanah

Petang tiba, matahari meredup, cahaya berkurang, tanah masih membiarkan aku menyentuhnya, menghubungkan aku dengan berbagai pengalaman kekinian hidupku. Aku menemukan kisah awal kehidupan sederhana, bersih, penuh roh, dan menghidupi. Aku memandang disitulah semuanya berawal dan berakhir dengan alami, dengan keseimbangan yang memberi pesan bahwa selalu ada jalan memasuki diri dengan sukacita. Dengan menyentuh tanah.

Besok aku tahu, tanah itu masih disitu. Nampak diam tak bergerak dan tak berubah. Tapi ada gerakan kehidupan paling lengkap terjadi disana. Sentuhlah, maka kamu akan merasa.

Tatok 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s